RSS

Gambaran Pelayanan Rumah Sakit

24 Nov

Dengan menggunakan indikator pemanfaatan dan mutu pelayanan rumah sakit, dapat dilihat efisiensi dan efektifitas pelayanan suatu rumah sakit. Penggunaan grafik Barber Johnson dapat memperlihatkan secara jelas posisi tersebut apakah berada pada “daerah efisien” atau tidak. Bila tidak, pihak manajemen rumah sakit perlu menemukan sumber masalahnya dan alternatif pemecahannya. Intervensi pemecahan masalah dapat dilakukan melalui perbaikan manajemen, peningkatan kemampuan teknis tenaga medis, atau dengan meningkatkan sarana dan prasarana pelayanan rumah sakit.

Pemecahan masalah yang tidak cermat tidak akan menyelesaikan persoalan yang muncul bahkan dapat lebih memperparah. Sebagai contoh, meningkatnya BOR rumah sakit disikapi dengan menambah tempat tidur rumah sakit. Padahal dengan mencermati indikator lainnya, misalnya AvLOS yang tinggi dapat diasumsikan pasien tidak ditangani dengan tepat dan cepat sehingga perawatan pasien menjadi lama atau adanya infeksi nosokomial.

›  Rumah Sakit Umum Pemerintah

Bila memperhatikan data pemanfaatan rumah sakit pemerintah dua tahun terakhir, terjadi fluktuasi tingkat pemanfaatan pelayanan rumah sakit oleh masyarakat. Data BOR rumah sakit yang memenuhi standar ideal meningkat menjadi 11 RS dari 8 RS pada tahun 2008. Sedangkan 2 RS lainnya memiliki BOR diatas 100%. Dari ke-11 RS tersebut, hanya 3 RS yang mempertahankan standar ideal BOR-nya yakni RS Tenriawaru, RS Lakipadada dan RS Labuang Baji.

Tabel 4 memperlihatkan 42,31% rumah sakit pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan telah dimanfaatkan secara ideal oleh masyarakat. Rumah sakit yang memiliki BOR diatas 100% disebabkan oleh kasus-kasus insidentil yang menyebabkan mening-katnya jumlah pasien pada periode tertentu, misalnya dengan mewabahnya DBD pada kuartal keempat setiap tahunnya sedangkan disisi lain jumlah tempat tidur tidak mencukupi.

Tabel 4.    Rumah Sakit Umum Pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan Yang Mencapai Standar Ideal BOR Tahun 2009

Nama Rumah Sakit

BOR 2008

BOR 2009

RSU Tenriawaru

85,05%

84,76%

RSU Andi Djemma

93,18%

78,14%

RSU Lakipadada

68,93%

76,70%

RSU Haji

58,44%

73,53%

RSU Andi Sulthan Dg. Radja

87,68%

73,42%

RSU Lamadukelleng

55,04%

69,04%

RSU Lasinrang

120,81%

68,94%

RSU Pajonga Dg. Ngalle

139,25%

68,93%

RSU Salewangang

95,78%

66,32%

RSU Daya

43,31%

64,09%

RSU Labuang Baji

60,16%

62,24%

Sumber : Data RL.1 Tahun 2008 dan 2009

Tabel 5 memperlihatkan rata-rata tempat tidur digunakan dalam periode tahun 2009 dan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jika merujuk standar ideal yakni 40-50 kali dalam setahun, maka tercatat hanya 6 RS yang memenuhi standar tersebut. Keadaan ini tidak jauh berbeda pada tahun 2008 sebanyak 5 RS.

Tabel 5.    Rumah Sakit Umum Pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan Yang Mencapai Standar Ideal BTO Tahun 2009

Nama Rumah Sakit

BTO 2008

BTO 2009

RSU Lakipadada

42 kali

49 kali

RSU Pangkep

90 kali

49 kali

RSU Nene Mallomo

34 kali

47 kali

RSU Lamadukelleng

43 kali

47 kali

RSU Labuang Baji

27 kali

43 kali

RSU Ajappangnge

78 kali

41 kali

Sumber : Data RL.1 Tahun 2008 dan 2009

 

Jika data diperhatikan secara keseluruhan, rumah sakit yang menggunakan tempat tidurnya secara tidak efisien mencapai 23,08%. Perlu dialokasikan biaya pemeliharaan untuk meningkatkan umur pakai sarana rumah sakit atau dengan menambah sarana tempat tidur rumah sakit. Solusi ini perlu dicermati dengan memperhatikan faktor-faktor yang mungkin ikut berpengaruh.

Data TOI pada tahun 2009 dan perbandingannya pada tahun sebelumnya dapat dilihat pada Tabel 6. Terjadi peningkatan jumlah RS yang mencapai standar ideal TOI yakni 5 RS pada tahun 2008 dan menjadi 11 RS pada tahun 2009 atau meningkat dari 20,00% menjadi 23,08%. Namun, hanya 1 RS yang tetap mempertahankan standar ini dalam periode 2008-2009 ini yakni RS Lakipadada Kab. Tana Toraja.

Tabel 6.    Rumah Sakit Umum Pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan Yang Mencapai Standar Ideal TOI Tahun 2009

Nama Rumah Sakit

TOI 2008

TOI 2009

RSU Ajappangnge

0.69 hari

2.70 hari

RSU Lamadukelleng

3.78 hari

2.39 hari

RSU Labuang Baji

3.95 hari

2.35 hari

RSU Salewangang

0.18 hari

2.07 hari

RSU Lakipadada

2.71 hari

1.73 hari

RSU Lasinrang

0.77 hari

1.71 hari

RSU Haji

3.16 hari

1.63 hari

RSU Pajonga Dg. Ngalle

0.47 hari

1.62 hari

RSU Andi Sulthan Dg.Radja

0.60 hari

1.61 hari

RSU Daya

3.63 hari

1.53 hari

RSU Andi Djemma

0.30 hari

1.13 hari

Sumber : Data RL.1 Tahun 2008 dan 2009

Proporsi ini menunjukkan 42,31% rumah sakit pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan telah memenuhi standar, 34,62% melebihi standar yakni diatas tiga hari dan 23,08% kurang dari satu hari. Namun secara umum, pemanfaatan rumah sakit pemerintah masih efisien. Dua rumah sakit pusat rujukan yakni RS Tenriawaru dan RS Sawerigading masuk dalam kategori diluar standar ideal. Sedangkan rumah sakit pusat rujukan lainnya yakni RS Andi Sulthan Dg. Radja, RS Daya dan RS Labuang Baji telah memenuhi standar ideal yang diharapkan yakni antara 1-3 hari.

Tabel 7 menunjukkan bahwa pada tahun 2009 hanya 2 RS yang memenuhi standar ideal AvLOS, padahal tahun sebelumnya 6 RS masuk dalam kategori ini. Meskipun demikian, secara keseluruhan rumah sakit memiliki nilai rata-rata 3-5 hari, artinya telah mendekati angka AvLOS ideal.

Tabel 7.    Rumah Sakit Umum Pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan Yang Mencapai Standar Ideal AvLOS Tahun 2009

Nama Rumah Sakit

AvLOS 2008

AvLOS 2009

RSU Masserempulu           6 hari           6 hari
RSU Lakipadada           6 hari           6 hari

Sumber : Data RL.1 Tahun 2008 dan 2009

Indikator GDR adalah salah satu indikator mutu pelayanan rumah sakit. Dengan melihat angka rata-rata kematian pasien keluar di rumah sakit, maka pelayanan yang baik akan berdampak pada rendahnya nilai GDR suatu rumah sakit. Demikian pula indikator NDR yang melihat pelayanan yang lebih spesifik pada pelayanan gawat darurat. Rendahnya angka rata-rata pada indikator ini menunjukkan tenaga medis di UGD responsif dalam melayani pasien (waktu tanggap lebih cepat dan lebih tepat).

Tabel 8 menunjukkan 100% rumah sakit pemerintah memiliki nilai GDR kurang dari 45 kematian per-1000 pasien keluar. RS Daya, RS Barru, RS Lanto Dg. Pasewang, RS Syech Yusuf, dan RS Arifin Nu’mang adalah lima rumah sakit dengan angka GDR terendah. Bahkan 2 RS yang pada tahun 2008 masih diatas standar yakni RS Lamaddukelleng dan RS Selayar pun tahun ini telah menurun dibawah batas tertinggi standar ideal GDR.

Kondisi ini tentu harus dipertahankan oleh rumah sakit dengan penerapan manajemen quality assurance yang tepat, pelayanan sesuai standar dengan prosedur tetap pada setiap unit pelayanan, peralatan medik yang memadai sesuai perkembangan teknologi kedokteran, dan yang terpenting adalah kompetensi tenaga medis yang terus ditingkat-kan sesuai kebutuhan dan tuntutan pelayanan.

Persoalan anggaran memang masih menjadi masalah klasik yang terus mengemuka sebagai biang ketidakmampuan rumah sakit meningkatkan mutu pelayanan. Wacana penerapan model BLUD bagi rumah sakit pemerintah menjadi solusi yang tepat agar rumah sakit mampu mengelola secara mandiri keuangannya dan dimanfaatkan se-optimal mungkin untuk meningkatkan mutu pelayanannya.

Hanya saja konsep ini belum sepenuhnya dapat diterima oleh Pemerintah Daerah sehingga dibutuhkan sosialisasi dan advokasi secara berkesinambungan agar model BLUD dapat diterapkan secepatnya bagi rumah sakit pemerintah sesuai amanat undang-undang tentang perumahsakitan.

Tabel 8.    Rumah Sakit Umum Pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan Yang Mencapai Standar Ideal GDR Tahun 2009

Nama Rumah Sakit

GDR 2008

GDR 2009

RSU Sawerigading

24,75/ooo

43,77/ooo

RSU Andi Makkasau

36,81/ooo

40,58/ooo

RSU Lamadukelleng

47,44/ooo

40,37/ooo

RSU Selayar

51,65/ooo

37,06/ooo

RSU Andi Sulthan Dg.Radja

30,99/ooo

36,79/ooo

RSU Nene Mallomo

37,46/ooo

35,57/ooo

RSU Lasinrang

34,55/ooo

34,61/ooo

RSU Salewangang

28,01/ooo

34,06/ooo

RSU Labuang Baji

44,97/ooo

33,94/ooo

RSU Lakipadada

33,40/ooo

31,94/ooo

RSU Andi Djemma

30,83/ooo

30,13/ooo

RSU Tenriawaru

35,31/ooo

29,29/ooo

RSU Ajjappannge

34,22/ooo

28,89/ooo

RSU Pangkep

16,79/ooo

28,26/ooo

RSU Masserempulu

35,47/ooo

25,76/ooo

RSU Prof. H.M. Dr. Anwar Makkatutu

14,87/ooo

23,79/ooo

RSU I Lagaligo

-

23,78/ooo

RSU Sinjai

11,73/ooo

17,39/ooo

RSU Haji

22,88/ooo

17,36/ooo

RSU Batara Guru

30,86/ooo

15,76/ooo

RSU H. Pajonga Dg. Ngalle

18,98/ooo

13,65/ooo

RSU Arifin Nu’mang

13,20/ooo

12,53/ooo

RSU Syech Yusuf

16,92/ooo

12,24/ooo

RSU Lanto Dg. Pasewang

9,71/ooo

11,85/ooo

RSU Barru

8,08/ooo

8,42/ooo

RSU Daya

2,36/ooo

7,61/ooo

Sumber : Data RL.1 Tahun 2008 dan 2009

Seperti indikator GDR, rata-rata NDR pada rumah sakit pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan dibawah 25 kematian ≥48 jam per-1000 pasien keluar. Hanya RS Sawerigading yang masih mencapai 29 kematian per-1000 pasien keluar. Ini tentunya tergantung pada jumlah pasien pada kelompok ini yang dilayani. Dengan demikian, hampir 100% rumah sakit pemerintah di Sulawesi Selatan telah memiliki waktu tanggap (response time) yang baik sehingga pasien UGD dapat dilayani dengan cepat. Hal ini terlihat pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9.    Rumah Sakit Umum Pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan Yang Mencapai Standar Ideal NDR Tahun 2009

Nama Rumah Sakit

NDR 2008

NDR 2009

RSU Labuang Baji

23,89/ooo

22,06/ooo

RSU Lamadukelleng

20,53/ooo

20,55/ooo

RSU Andi Makkasau

16,82/ooo

17,81/ooo

RSU Lakipadada

17,60/ooo

17,79/ooo

RSU Nene Mallomo

18,29/ooo

16,55/ooo

RSU Selayar

21,95/ooo

15,44/ooo

RSU Pangkep

  7,12/ooo

13,52/ooo

RSU Lasinrang

15,81/ooo

13,31/ooo

RSU Ajjappannge

11,33/ooo

13,21/ooo

RSU Tenriawaru

15,80/ooo

12,97/ooo

RSU Prof. H.M. Dr. Anwar Makkatutu

  7,31/ooo

10,51/ooo

RSU Masserempulu

16,49/ooo

10,12/ooo

RSU Andi Sulthan Dg.Radja

  9,05/ooo

  9,61/ooo

RSU Andi Djemma

11,71/ooo

  9,27/ooo

RSU Salewangang

  7,23/ooo

  8,67/ooo

RSU Sinjai

  5,51/ooo

  7,50/ooo

RSU Haji

  8,49/ooo

  6,83/ooo

RSU Batara Guru

10,29/ooo

  5,95/ooo

RSU Arifin Nu’mang

  9,35/ooo

  5,10/ooo

RSU Daya

  0,67/ooo

  4,93/ooo

RSU Takalar

  4,19/ooo

  4,58/ooo

RSU Lanto Dg. Pasewang

  4,43/ooo

  3,48/ooo

RSU Syech Yusuf

  5,84/ooo

  3,17/ooo

RSU Barru

  1,01/ooo

  2,34/ooo

RSU I Lagaligo

-

  1,78/ooo

Sumber : Data RL.1 Tahun 2008 dan 2009

 

›  Rumah Sakit Khusus Pemerintah

Data pemanfaatan pelayanan rumah sakit khusus salah satunya adalah RSJ Dadi sebagai rumah sakit jiwa di Sulawesi Selatan dengan 450 unit tempat tidur memiliki BOR tinggi yakni 161.00%.

RSJ Dadi merupakan satu-satunya rumah sakit jiwa yang menerima rujukan pasien gangguan jiwa dari rumah sakit lain. Selain itu jumlah pasien gangguan jiwa yang semakin meningkat dari tahun ke tahun serta pasien yang membutuhkan perawatan dalam jangka waktu yang lama merupakan penyebab utama tingginya angka ini. Selain itu, pasien yang dinyatakan sembuh dan dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat cenderung belum siap diterima oleh keluarganya sehingga tetap dibiarkan di rumah sakit.

Sumber :dinkes-sulsel.go.id

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: